Penjualan Dilarang Sementara karena Dugaan Pemicu Gagal Ginjal, Begini Sejarah Obat Sirup

Sugeng rawuh Korire Staurant di Website Kami!

Korire Staurant – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memerintahkan seluruh apotek dan toko obat untuk menghentikan sementara penjualan obat dalam bentuk sirup. Hal ini menyusul ditemukannya dan dugaan penggunaan sirup yang mengandung bahan berbahaya seperti etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang diyakini menjadi penyebab misterius cedera ginjal akut pada anak. Penjualan Dilarang Sementara karena Dugaan Pemicu Gagal Ginjal, Begini Sejarah Obat Sirup

Larangan penggunaan dan penjualan obat-obatan dalam bentuk sirup telah menarik perhatian masyarakat, karena obat-obatan dalam bentuk sirup sangat sering digunakan oleh orang tua untuk mengobati anak yang sakit. Jika saat ini penggunaan obat dalam bentuk sirup dilarang, mengapa obat ini digunakan selama berabad-abad? Sekarang mari kita simak penjelasan berikut mengenai sejarah penggunaan obat dalam bentuk sirup tersebut.

Sejarah pengobatan sirup

Pada awal abad ke-19, masyarakat Amerika Serikat (AS) mengunjungi apotek setempat untuk berobat. Petugas apotek kemudian meracik bahan obat dari tumbuhan dan mineral. Mengutip Konferensi Farmakope Amerika Serikat: Orang yang mencari pengobatan melihat proses yang mirip dengan menonton barista mencampurkan bahan-bahan untuk minuman kopi. Menkes Budi Terima Laporan 13 Petugas KPPS Meninggal Dunia, Rata-Rata Punya Komorbid

Namun salah satu risiko dari obat cair ini adalah air yang terkontaminasi dan dosis yang salah, terlalu banyak atau terlalu sedikit. Saat itu, masyarakat sedang bereksperimen dengan pengobatan alternatif perdukunan.

Akibatnya, kepercayaan terhadap efektivitas pengobatan tradisional mulai didiskreditkan. Terakhir, Lyman Spalding, seorang dosen dan dokter di New York, mendirikan Farmakope Amerika Serikat pada Januari 1820 untuk menetapkan standar mutu obat sehingga dapat melindungi kesehatan masyarakat.

Penekan batuk yang mengandung opiat

Pada akhir tahun 1800-an, orang Amerika sering menggunakan sirup untuk meredakan batuk. Namun sirup yang digunakan mengandung candu atau Opium merupakan obat yang dihasilkan dari tanaman opium poppy yang diketahui bersifat adiktif.

Mengutip dari Healthline: Pada akhir tahun 1800-an, sirup obat batuk malam hari, obat pereda batuk yang mengandung alkohol, ganja, kloroform, dan morfin, beredar. Produk farmasi meliputi obat-obatan yang dijual bebas (over-the-counter/OTC) atau obat bebas.

Obat ini menjanjikan untuk mengurangi batuk di malam hari dan membantu pasien tidur lebih nyenyak. Mengingat komposisi dan bahan-bahannya, tak heran jika penggunanya cepat kehilangan kesadaran.

Penekan batuk yang mengandung bahan analgesik

Selain candu, obat batuk pada abad ke-19 juga mengandung morfin, sejenis candu yang berasal dari tanaman opium. Opium sendiri merupakan senyawa narkotika dan termasuk dalam semua obat-obatan sebagai pereda nyeri.

Morfin awalnya digunakan untuk menghilangkan rasa sakit, terutama di kalangan veteran Perang Saudara. Selain itu, morfin juga digunakan sebagai bahan tambahan pada sirup obat batuk sebagai obat pereda batuk.

Kemudian pada tahun 1895, perusahaan Jerman Bayer memproduksi heroin dari morfin dan memasukkannya ke dalam sirup obat batuk sebagai pereda batuk. Obat tersebut disebut-sebut lebih aman dibandingkan morfin, meskipun morfin ternyata sama berbahayanya. Penjualan Dilarang Sementara karena Dugaan Pemicu Gagal Ginjal, Begini Sejarah Obat Sirup

Bahan sirup obat batuk kekinian

Obat batuk sirup masih beredar di pasaran, namun bahannya diteliti lebih lanjut dan diberi label pada kemasannya. Bahan sirup obat batuk saat ini antara lain dekstrometorfan penekan batuk (DXM), kodein, benzoat, mentol, kamper, minyak kayu putih, madu, dan guaifenesin ekspektoran.

Obat batuk bebas yang dikutip Healthline masih menimbulkan risiko berbahaya jika tidak dikonsumsi sesuai anjuran. Oleh karena itu, pengguna harus mengetahui cara kerja, dosis dan resep serta disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.